Senin, 19 September 2011

Soros: Perekonomian Dunia dalam Mara Bahaya


Negara maju getol berkotbah tentang disiplin fiskal tapi gagal mengendalikan anggaran.

KAMIS, 15 SEPTEMBER 2011, 23:50 WIB
Hadi Suprapto, Nur Farida Ahniar, Nina Rahayu
VIVAnews - Miliarder dan investor dunia ternama George Soros mengingatkan bahwa krisis utang Eropa berisiko memicu Depresi Besar(Great Depression) lainnya. Hal itu hanya bisa dihindari jika para pemimpin di zona euro menerapkan serangkaian kebijakan radikal, termasuk membentuk lembaga keuangan(treasury) bersama.

Soros, dalam sebuah artikelnya di New York Review of Books dan Reuters.com, mengatakan bahwa para perumus kebijakan harus menyiapkan segala kemungkinan seandainya Yunani, Portugal, dan barangkali juga Irlandia, akan default dan memutuskan keluar dari zona euro.
“Kalaupun bencana bisa dihindarkan, satu hal sudahlah pasti: tekanan untuk mengurangi defisit akan mendorong zona euro ke dalam resesi berkepanjangan. Hal ini memiliki berbagai konsekuensi politik yang tak terkira,” Soros mengingatkan.

Kini, semakin banyak perumus kebijakan, termasuk ekonom, yang meyakini bahwa tinggal soal waktu saja sebelum Yunani, yang terus kedodoran mencapai target fiskalnya setelah menerima dua kali dana talangan (bailouts) dari Uni Eropa/IMF , pada akhirnya akan ambruk juga.

Italia dan Spanyol telah mendapat tekanan dari pasar obligasi, terkait utang bank dan pemerintah mereka yang begitu besar, dan tingkat pertumbuhan yang lemah. Ini penyebab Utama dari munculnya kekhawatiran bahwa kedua perekonomian itu sudah terlalu besar untuk diselamatkan oleh dana penyelamatan Eropa, yang telah digunakan sebagai dana talangan (bailouts) untuk Yunani, Portugal dan Irlandia.

Selain mempersiapkan diri untuk menghadapi kolaps-nya perekonomian di tiga negara itu dan keluarnya mereka dari zona euro, Soros merekomendasikan empat kebijakan utama untuk diterapkan.
Yang pertama, deposito di bank harus diproteksi untuk mecegah bank beroperasi dalam kondisi yang lemah. Kedua, sejumlah bank di negara-negara yang default itu harus terus dijaga agar tetap berfungsi untuk menjaga perekonomian mereka tetap mengapung di permukaan. Ketiga, sistem perbankan Eropa perlu direkapitalisasi dan ditempatkan di bawah supervisi Eropa. Yang terakhir, obligasi-obligasi pemerintah dari negara-negara lain yang juga defisit harus diproteksi.

“Semua ini akan menghabiskan banyak uang,” demikian ditulis filatrofis dan hedge fund manager yang telah berusia 81 tahun ini. “Tak ada alternatif lain kecuali mendorong lahirnya sebuah resep yang selama ini hilang: sebuah lembaga treasury Eropa yang memiliki kewenangan untuk memungut pajak dan meminjam uang.”

Pembentukan Lembaga Treasury Eropa ini, kata Soros, “Adalah satu-satunya cara untuk mencegah lahirnya kemungkinan pelelehan keuangan dan terciptanya Great Depression lain.”

Soros sadar bahwa langkah semacam ini membutuhkan kesepakatan Uni Eropa yang baru dan karena itu ia mendesak para pemimpin Eropa untuk mulai segera bekerja karena proses ini membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dia juga menyadari bahwa kebijakan semacam ini akan sangat kontroversial, khususnya di Jerman, di mana ada gerakan oposisi yang kuat terhadap kebijakan penjaminan utang semacam ini.
Wewanti Bank Dunia
Peringatan serupa juga dirilis World Bank. Presiden Bank Dunia Robert Zoellick Rabu kemarin, 14 September 2011, mengingatkan bahwa dunia telah memasuki zona bahaya baru. Menurutnya, Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat harus membuat keputusan-keputusan sulit untuk mencegah mereka ikut menyeret turun perekonomian global.
"Kecuali Eropa, Jepang, dan AS dapat memikul tanggung jawab penuh, mereka akan menyeret jatuh bukan hanya diri mereka sendiri tapi juga perekonomian global," demikian Zoellick berpidato di George Washington University, AS.
"Mereka lama terus menunda-nunda berbagai keputusan sulit, mencoba menyempitkannya pada sejumlah opsi, yang kini tinggal tersisa sedikit saja dan akan menyakitkan," dia mengatakan sebelum pertemuan Bank Dunia dan International Monetary Fund pekan depan.
Pidato tajam Zoellick itu menggarisbawahi memuncaknya ketakutan di antara para perumus kebijakan dunia tentang krisis utang pemerintah di Eropa yang kini menjadi semakin parah, dan bahkan telah menutupi kekhawatiran sebelumnya dari para investor tentang kondisi keuangan dan reformasi sektor publik di AS dan Jepang.
Zoellick menekankan, AS dan Jepang--yang telah meminta China untuk ikut berperan aktif mengatasi krisis ini sebagai sebuah kekuatan ekonomi global yang sedang naik daun--juga harus mengambil tindakan secara bertanggung jawab dan menghadapi berbagai masalah ekonomi mereka sendiri.
Perdana Menteri China Wen Jiabao sebelumnya telah meminta negara-negara maju untuk mengambil tanggung jawab untuk mengambil berbagai kebijakan fiskal dan moneter yang diperlukan, guna menghindarkan krisis Eropa menyebar ke negara-negara lain.

Pertemuan antara para pemimpin keuangan dan pembangunan global di Washington pekan depan akan memusatkan perhatian pada krisis utang Eropa dan risiko gagal bayarnya utang Yunani, dan telah semakin nyaring membunyikan alarm di berbagai pasar modal dunia.
Beragamnya sinyal yang disampaikan para pemimpin Eropa telah membuat makin menjadinya kekhawatiran bahwa 17 anggota zona euro tak akan bisa bersatu untuk merumuskan pendekatan bersama yang satu untuk menghadapi krisis ini.
Zoellick mengatakan negara-negara Eropa masih menolak sejumlah kenyataan pahit tentang tanggung jawab bersama mereka.
"Waktu untuk berputar-putar sudah usai," kata Zoellick. "Jika kita tidak berhasil menghadapi fenomena ini, jika kita tidak beradaptasi untuk berubah, jika kita tidak meninggalkan taktik politik jangka-pendek semata atau mengakui bahwa dengan kekuasaan itu juga muncul tanggung jawab, maka kita akan hanyut dalam arus yang berbahaya."
Yang menarik, pidato Zoellick juga menyoroti berubahnya lanskap global di mana negara-negara berkembang, menurut dia, sedang memainkan peran yang lebih besar dalam perekonomian dunia--dan juga semakin meningkat di sektor pembangunan.
Dia mengatakan negara-negara maju belum sepenuhnya mengakui bahwa pergeseran global ini sedang berlangsung dan masih saja beroperasi di bawah kebijakan "lakukan menurut apa yang saya katakan, bukan menurut apa yang saya perbuat". Negara-negara maju ini getol berkotbah tentang disiplin fiskal tapi gagal mengendalikan anggaran mereka sendiri. Mereka juga gagah mempromosikan keberimbangan utang, padahal utang mereka sendiri luar biasa tingginya.

Ditanggapi serius

Sementara itu, pemerintah menyatakan akan menyiapkan program stimulus untuk menghindari kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan krisis Eropa ternyata lebih serius dari yang diperkirakan semula. "Sekarang kami akan bersiap untuk menghadapi krisis itu," kata Agus di Gedung DPR, Jakarta, Kamis, 15 September.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Bambang Brodjonegoro, menambahkan krisis global yang terjadi saat ini akan berpengaruh bagi Indonesia. Pemerintah mengkhawatirkan munculnya kembali kondisi ekonomi seperti pada krisis 2008 lampau. "Krisis seperti 2008 akan terjadi pada 2012. Krisis global bisa lebih berat dari 2008," kata Bambang, was-was.

Menurut Bambang, pengaruh krisis global ini memang tidak akan berdampak langsung kepada Indonesia. Namun, resesi ini bakal memukul negara-negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor Indonesia, sehingga mau tidak mau pada akhirnya akan ikut mengancam perekonomian nasional. (kd)
ssssssssssssssssssssssssssss
• VIVAnews

Strategi Pemasaran Pariwisata Karimun Sebagai Langkah Progresif Pertahanan Terdepan Indonesia

 Kontribusi Dari Arombai
Thursday, 26 November 2009
Pemutakhiran Terakhir Thursday, 26 November 2009
 Oleh: Burhan Bungin (Peneliti Masalah Branding Destination Indonesia-Malaysia)      PARIWISATA DI INDONESIA DAN
MALAYSIA-SINGAPUR berada di dalam satu kawasan geografis, budaya dan lingkungan demografi, memiliki
kesamaaan bahasa serta memiliki kemiripan cara pandang  tentang dirinya dalam semua aspek kehidupan.  Walaupun
kedua-dua Negara memiliki pengalaman yang berbeda di masa lampau mengenai kolonialisme, namun sejarah
pembinaan kedua-dua Negara telah menghasilkan integrasi suku-suku bangsa didalam kedua-dua Negara yang memiliki
kesamaan majemuk. Di Indonesia memiliki bermacam-macam suku-bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke,
dari Sanger sampai Timor, namun semua suku-bangsa ini dipengaruhi oleh budaya Melayu Nusantara yang sangat
dominan. Sementara itu Malaysia-Singapur yang memiliki kemajemukan suku-bangsa Melayu yang sama dengan
Indonesia serta memiliki komposisi warga Negara India dan Cina yang ramai.
 Dengan latarbelakang yang sama itu, maka disemua aspek pariwisata, di Indonesia maupun di Malaysia-Singapur,
berbagai aspek pariwisata yang di jual juga memiliki kemiripan di antara ketiga-tiga Negara, kesamaan utama dari
pariwisata di ketiga Negara itu adalah pada aspek;  a. Wisata laut dan pantai b. Wisata alam dan view c. Agrowisata
d. Wisata budaya dan heritage e. Wisata belanja  Namun demikian disana-sini terdapat pula perbedaan seperti
umpamanya pariwisata mancanegara yang datang di Indonesia lebih karena alasan tertarik dengan beberapa objek
pariwisata seperti keindahan pulau Bali yang romantik, pulau Lombok yang cantik, karena Gunung Bromo yang eksotik,
taman Laut Bonaken dan Taman Laut Banda yang sangat Indah serta ingin melihat Komodo dan Candi Barobudur yang
spektakuler. Begitu pula wisatawan yang datang ke Bandung karena di sana ada wisata belanja yang ramai dan murah.
Namun wisatawan mancanegara yang datang ke Malaysia-Singapur karena daya tarik Kualalumpur dengan Menara
Petronas yang menjulang tinggi, kehidupan malam di Bukit Bintang yang ramai dengan ramai orang dari berbagai
bangsa di dunia atau karena Kualalumpur dan Malaysia ada Trury Asia.                                                                            
                                                                                                               Alasan lain juga karena kenyamanan dan
keamanan, karena Malaysia-Singapur terkesan lebih aman dan nyaman dengan berbagai macam transportasi publik
sehingga berbagai kota di Malaysia-Singapur lebih tertib dan lancar. Sementara itu Indonesia terkesan tidak aman,
karena beberapa kasus bom pernah terjadi di Jakarta, Bali dan berberapa kota lain. Begitu pula suasana kota-kota besar
di Indonesia yang sesak, padat dengan transportasi publik yang kurang baik dan kurang banyak pilihan.  Melancong ke
ibu kota Malaysia, Kualalumpur memiliki daya tarik tersendiri, karena di sana terdapat berbagai objek wisata yang
jaraknya tidak jauh dari pusat kota. Walaupun Kualalumpur adalah kota metropolitan, namun kota ini tidak terlalu besar
dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu padat, Luas kawasan ibu kota itu sendiri sekitar 244 km persegi dengan
jumlah penduduk diperkirakan 1.8 juta jiwa (http:// wisatakualalumpur.net/), dengan transportasi publik yang lengkap
seperti MRT, Ripit KL, monorel dan lainnya,  yang tidak dijumpai di ibu kota Indonesia, Jakarta. Begitu juga Singapur,
walaupun penduduk sekitar 5 juta namun tersebar disemua kawasan, seperti China Town, Mustafa, Bugis, Orchad, Vivo
dan sebagainya. Begitu pula karena transportasi Singapur mengutamakan MRT yang menggunakan jalur bawah tanah
maka kepadatan lalulintas di atas tanah dapat dikendalikan.   Mari kita lihat Jakarta,  kota metropolitan ini  sangat besar
bila dibandingkan dengan Kualalumpur, luas Jakarta adalah 661,52 km2 dengan jumlah penduduk seramai 8.513.385
juta (Maret 2009). Kota yang terlalu besar dengan transportasi publik yang buruk serta berbagai kasus banjir serta
kemacetan (jump) dimana-mana, menjadi kota yang tidak nyaman untuk di kunjungi. Kualalumpur selain menjadi kota
transit pariwisata Malaysia, juga menjadi destinasi yang menyenangkan, hal ini berbeda dengan Jakarta. Jakarta lebih
banyak menjadi kota transit pariwisata ke Bali, Jogya, Lombok, Maluku, Manado dan Papua. Wisatawan juga dapat
melupakan Jakarta karena mereka dapat terbang langsung ke Denpasar, Biak, Makasar dan sebagainya. Ibu kota
negara menjadi pintu masuk suatu negara. Kondisi ibu kota negara juga menjadi cermin pariwisata suatu negara dan
akan  mempengaruhi wisatawan memilih suatu destinasi negara, sebagaimana di katakan oleh Jeremi , wisatawan dari
Amerika bahwa dia datang ke Malaysia karena Malaysia aman, Kualalumpur aman dan indah. Alasan lain juga karena
semua orang datang di Kualalumpur, maka dia juga datang kesana. Kualumpur telah menjadi kota kosmopolitan yang
dikunjungi oleh jutaan  pelancong dari berbagai bangsa di dunia. Sementara itu Jakarta yang padat dengan kendaraan
menyebabkan macet luar biasa, hal ini menjadi salah satu penghalang utama wisatawan datang ke Jakarta. KONDISI
KUNJUNGAN WISATAWAN KE INDONESIA Secara umum, pariwisata Indonesia mengalami pasang surut sejak tahun
1997 sampai dengan tahun 2008. Data jumlah kunjungan wisatawan luar negeri dari tahun 1997 sampai 2008
mengalami fluktuasi sesuai dengan perkembangan citra Indonesia. Jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia menurun
ketika ada isu negatif mengenai keamanan, bencana alam, dan wabah penyakit, kerusuhan 1998, bom di Bali 2002,
tsunami di Aceh 2004, wabah SARS 2003, bom Jakarta 2003, bom di Kedubes Australia 2004, tsunami Aceh 2004,
Avian Flu 2005, bom Bali II 2005, gempa Jogja 2006.  Beberapa peristiwa buruk yang dihadapi pemasaran pelacongan
di Indonesia yakni menyangkut peristiwa global dan issue teorisme yang tidak menguntung yang terjadi dalam tahun
2007-2009 dengan frekwensi yang berulang-ulang seperti;  (1) Krisis Finansial Global (mulai Januari 2008). Dampak
krisis Finansial Global mengubah pola perjalanan dari Long Houl menjadi Medium dan Short Houl; (2)  Wabah Flu Babi
(H1N1) (Pandemi WHO, 11 Juni 2009). Akibat wabah H1N1 menyebabkan ketakutan beberapa wisatawan dari pasarpasar tertentu terjangkit sesama wisatawan ketika dalam  perjalanan (pesawat); (3)  Aksi Teror.  Aksi terror mendorong
beberapa Negara mengeluarkan advisory ke Indonesia (Singapore dan Australia) Jumlah kunjungan wisatawan
meningkat kembali sejalan dengan peningkatan pemasaran, peryebarluasan informasi, diplomasi budaya, kerja sama
www.arombai.com
http://arombai.com/catatan Menggunakan Joomla! Generated: 20 September, 2011, 04:36pariwisata internasional, reputasi baik publik relation, educational tour, penyeberluasan usaha yang kondusif seperti;
keamanan yang tingkatkan, kesehatan masyarakat diperbaiki, perbaikan lingkungan serta penanggulangan bencana
bencana alam. Salah satu perkembangan yang positif dan berhasil terhadap usaha pemasaran pariwisata di Indonesia
pada tahun 2007-2009, bahwa kecenderungan dampak isue keamanan maupun bom tidak berpengaruh terhadap
kunjungan pariwisata di Indonesia. Hal itu terbukti bahwa sepanjang tahun 2007-2008 di Indonesia mengalami
goncangan-goncangan politik karena pelaksanaan Pemilu Kepala Daerah (PILKADA), namun angka kunjungan ke
Indonesia terus meningkat. Bahkan pada tahun 2008 Indonesia berhasil mendatangkan wisatawan sebanyak 6,5 juta
wisatawan, angka ini tak pernah dicapai Indonesia sepanjang sejarah. Begitu pula ketika bom meletus di Jakarta pada
Juli 2009, tidak menjadikan penghalangan bagi niat wisatawan untuk terus melawat Indonesia.  Berdasarkan data dari
Kominfo-Newsroom, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta, 10/8/2009, menyatakan jumlah kunjungan
wisatawan mancanegara  ke Indonesia pada semester pertama tahun 2009 meningkat dibandingkan semester pertama
tahun 2008 lalu.  Pada hal pada tahun 2007, Indonesia hanya meraih jumlah kunjungan pariwisata hanya 5,5 juta.
Menurut Kepala Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan Depbudpar Ir. Wibowo di Gedung Sapta Pesona, Jakarta,
bahwa kunjungan wisatawan cukup signifikan pada tahun 2008 lalu, misalnya kunjungan wisatawan asal Austarlia naik
28,67 persen atau mencapai 215.148 orang, demikian juga dari China, naik 19,36 persen atau sebanyak 164.298 orang.
Dari pertumbuhan cukup tinggi jumlah wisatawan dari Negara-negara lain juga terjadi, misalnya dari Arab Saudi,
Perancis dan Malaysia. Kunjungan wisatawan dari Arab Saudi pada periode yang sama Januari-Juni 2009 sebanyak
20.435 orang atau naik 39,88 persen disbanding semester pertama tahun lalu, sedangkan dari Perancis dan Malaysia
masing-masing sebanyak 61.605 orang dan 388.999 orang atau naik sebesar 28 persen dan 20,69 persen dibanding
tahun lalu. Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia melalui seluruh pintu masuk pada semester I
2009 mencapai 2.965.472 orang atau naik 2,17 persen dibandingan periode yang sama tahun 2008 lalu sebanyak
2.902.604 orang. Khusus jumlah kunjungan wisatawan bulan Juni 2009 mencapai 550.582 orang atau mengalami
kenaikan sebesar 4,067 persen dibanding bulan yang sama tahun 2008 sebanyak 529.064 orang
(http://www.depkominfo.go.id/2009/08/10/kunjungan-wisatawan-mancanegara-ke-indonesia-naik/).  Keberhasilan
pariwisata Indonesia pada tahun  2008 tidak hanya pada angka kunjungan wisatawan, namun pada perolehan devisa
yang mencapai US$ 7,57 telah memecahkan rekor perolehan devisa tertinggi Indonesia selama ini. Pada Tahun 2008
lalu, para wisman yang berbelanja menghabiskan US$ 1.178 per orang. Menurut Menteri Budaya dan Pariwisata
Indonesia,  pencapaian devisa tahun 2008 tidak lepas dari 2 hal, yaitu; melonjaknya kunjungan wisman dan juga
pengeluaran belanja mereka (http://hmgf-ugm.org/index.php/news-art/13-viy-2009.html). Direktur Promosi Dalam Negeri,
Depbudpar, Fathul Bahri mengatakan, tiga peristiwa besar, yakni krisis finansial global, menyebarnya wabah flu babi
H1N1, dan peledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta tidak berpengaruh besar terhadap jumlah
kunjungan wisatawan ke Indonesia. Pasca bom di Mega Kuningan Jakarta, penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke
Jakarta hanya sebesar lima persen untuk periode Juli-Agustus 2009. Namun itu tidak diikuti dengan penurunan untuk
destinasi wisata lain, misalnya Bali dan Lombok (http://www. depkominfo.go.id/2009/ 08/10/kunjungan-wisatawanmancanegara-ke-indonesia-naik/).  Secara umum keberhasilan lawatan ke Indonesia disebabkan karena pada tahun
2007, pemerintah, daerah, swasta, masyarakat telah bekerja keras dalam memperbaiki citra pariwisata Indonesia.
Namun secara khusus keberhasilan pariwisata Indonesia  pada tahun 2008 diduga karena beberapa hal, terutama
karena terlaksananya peningkatan kegiatan pemasaran pariwisata Indonesia dan peran pihak terkait seperti;
1. Dilaksanakannya Visit Indonesia Year 2008 dengan lebih dari 74 events di seluruh Indonesia; 2. Terlaksananya lebih
523 event domestik dan 249 event internasional MICE; 3. Bertambahnya penerbangan menuju Indonesia dari Singapura,
Kuala Lumpur, Seoul, Perth, Brisbane, Melbourne, Sydney, Hong Kong, Vladivostok, Teheran, Chennai; 4. Terjadi
peningkatan reservasi lebih besar 40% dari Australia; 5. Peran aktif perwakilan Rl di luar negeri. 6. Adanya perubahan
strategi pemasaran  3 bulan di akhir tahun 2008, seperti pada tabel 2 di atas karena adanya isue-isue global dan
keamanan di Indonesia.   MENYIAPAN USAHA-PRODUK PARIWISATA KABUPATEN KARIMUN  Karimun memiliki
potensi pariwisata yang cukup banyak yang dapat dikembangkan dan menjadi daya tarik pariwisata Kabupaten Karimun.
Potensi Pariwisata Karimun itu seperti: 1. Membuat even olah raga laut tradisional dengan menampilkan perahu-perahu
tradisional Melayu dan mengikutsertakan daerah-daerah disekitar Karimun seperti Pekan Baru, Batam, Bintan, Johor
dan Singapur. 2. Menggalakan even wisata kuriner dengan melibatkan daerah-daerah lain di sekitar dan Malaysia serta
Singapur. 3. Menggalakan even-even kesenian tradisional Melayu atau Multi-Etnik di Karimun dengan melibatkan
Malaysia dan Singapur. 4. Mengoptimalkan pariwisata pantai sebagai produk unggulan kunjungan di Karimun.
5. Membuat paket-paket wisata memancing dengan membuat even memancing tingkat nasional atau internasional.
6. Membuat paket-paket wisata sejarah dengan memanfaatkan kota lama dan tarnportasi tradisional di Karimun sebagai
obyek utama. 7. Membuat paket-paket wisata agro dengan memanfaatkan potensi hutan di pulau-pulau sekitar Karimun.
8. Membuat paket-paket wisata pendidikan dengan menjadikan Karimun atau pulau-pulau sekitar Karimun sebagai lokasi
riset untuk pelajar dan mahasiswa dari Malaysia dan Singapur. 9. Membuat paket-paket pentukaran pelajar dan
mahasiswa antara Karimun, Malaysia dan Singapur dengan sebanyak-banyaknya mengundang pelajar asing datang ke
Karimun. 10. Membuat paket-paket petualangan dengan memanfaatkan hutan dan rawa yang cukup banyak ada di
Kabupaten Karimun. 11. Mendukung usaha-usaha UKM untuk menciptakan sebanyak mungkin Souvenir dan handycraft
khas Karimun sebagai cendramata yang dapat di jual kepada wisatawan. 12. Mendorong sebanyak mungkin tumbuhnya
UKM-UKM di bidang pariwisata dan dapat berpartisipati dengan pemerintah di dalam pengembangan wisata di Karimun.
 MENYIAPKAN STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA KARIMUN   1. Grand Strategy Strategi ini dimaksud bahwa
pada tingkat nasional, pariwisata Indonesia telah memiliki grand strategy yaitu struktur atau kerangka utama
pengembangan pemasaran yang termuat dalam Rencana Pembangun Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana
Pembanguan Jangka Panjang (RPJP), yang kemudian telah dirinci kembali kedalam Rencana Strategi (RENSTRA) dan
kemudian disusun secara lebih terpertinci lagi didalam Strategi Pemasaran Palancongan Indonesia. Grand Strategy ini
www.arombai.com
http://arombai.com/catatan Menggunakan Joomla! Generated: 20 September, 2011, 04:36menjadi Kerangka Umum Pembangungun Pariwisata di Indonesia yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia secara
berkesinambungan. Jadi strategi pemasaran pariwisata Karimun harus mengacu kepada grand strategy ini sebagai
kerangka umumnya.    2. Pull dan Push Strategy   (a) Pull Strategy Pull Strategy adalah strategi pemasaran yang
mempunyai  tujuan menarik konsumen secara langsung dari pasar dengan meningkatkan kesadaran dan keingingan
untuk berkunjung ke Indonesia. Tujuannya adalah agar ada peningkatan kesadaran produk pariwisata dan keingginan
berkunjung ke Indonesia, dengan strategi ini diharapkan dapat memantapkan posisi Karimun sebagai destinasi pilihan
wisatawan Malaysia-Singapur, maupun wisatawan internasional lainnya. Untuk dapat lebih efektif maka strategi ini lebih
condong menggunakan media elektronik dan cetak lokal dan disesuaikan dengan statistik musim kunjungan. Sebagai
contoh, agar wisatawan Singapura  dan Malaysia,  langsung dapat berkunjung ke Indonesia perlu diadakan pemasangan
iklan sebelum liburan sekolah dan liburan panjang.  (b) Push Strategy Strategi ini bertujuan mendorong industri pariwisata
di dalam dan luar negeri Karimun untuk mengadakan pengenalan dan penjualan produk pariwisata Karimun. Pemda
Karimun memfasilitasi industri dalam dan luar negeri untuk mengadakan pertemuan bisnis, pengadaan bahan promosi,
kerjasama promosi, dan kemudahan lain untuk mendatangkan wisatawan ke Karimun. Push Strategy digunakan karena
anggaran pemasaran terbatas, sehingga iklan di media masa elektronik dan cetak diminimalkan. Sebagai gantinya maka
pemasaran pariwisata lebih intensif mengadakan atau mengikuti bursa pariwisata (event), travel fair dan sejenisnya di
luar negeri. Pemda Karimun juga bekerja sama dengan pihak swasta dalam pembuatan bahan-bahan promosi berupa
VCD,DVD, calendar event, tourist map, booklet, leaflet, travel planner, travel news, infosheet, kit, baliho. Untuk
meningkatkan citra destinasi di Karimun, maka Pemda Karimun mendorong pembentukan paket wisata seperti
educational tour yang diikuti oleh tour operator, penulis, wartawan, tokoh, selebrity dari Malaysia-Singapur.     3. Strategi
Penetrasi  Pemda Karimun  juga dapat menggunakan beberapa strategi penetrasi pemasaran pariwisata dengan prinsip
dana kecil dampak besar (low budget high impact). Strategi pemasaran pariwisata ini tujuannya untuk memanfaatkan
kemampuan pariwisata Karimun yang sudah ada saat ini, agar lebih bermanfaat bagi pemasaran pariwisata. Strategi ini
dilaksanakan dengan beberapa tujuan:  (a) Produk Lama Segmen Baru Strategi ini digunakan apabila produk pariwisata
belum dikenal atau masih baru, stakeholders dapat menggunakan strategi penerobosan pasar, seperti umpamanya,
penawaran produk yang semula hanya untuk laki-laki dipromosikan untuk wisatawan perempuan terutama kepada pasar
Singapura, Malaysia, Filipina misalnya paket wisata belanja, kuliner, spa.   (b) Produk Lama Kegunaan dan Kemasan
Baru  Strategi ini digunakan pada  produk yang cukup dikenal, dengan demikian pemda Karimun  dan swasta di Karimun
dapat memilih: Pertama: Membuat kemasan dengan menggali cerita misalnya tentang spa tradisional Karimun sebagai
warisan leluhur, bila dilakukan rutin dapat mengurangi resiko stress dan menjaga kesehatan keluarga, tidak hanya ibu
rumah tangga tetapi anak dan bapak. Kemudian, pemasar mengkomunikasikan kepada konsumen. Kedua: Mengemas
dan menyebarkan cerita berbagai legenda yang ada di Karimun seperti nama pulau Moro, Pulau Kundur, dan Pulau
Urung sebagai pulau-pulau yang pernah di singgahi oleh Raja Majapahit, karena itu kedua pulau ini memiliki penduduk
keturunan Jawa. Atau menyebar legenda tentang angkutan Tradisional Karimun sebagai angkutan masyarakat yang
telah berumur ratusan tahun, memiliki cerita dan sejarah yang berkaitan dengan tradisi-tradisi bangsa Melayu di
Malaysia, Singapur dan Pekan Baru. Dapat pula dikemas cerita mengenai legenda kota lama Karimun, sebagai  kota
Bajak Laut ratusan tahun lalu, dimana tempat itu menjadi tempat pertemuan bajak-bajak laut di Selat Malaka dan
sebagainya.  (c) Membentuk dan Medukung Komunitas Strategi ini ditujukan untuk memperkuat  citra  dengan testimonial
antar komunitas tertentu. Strategi ini juga dapat dilakukan dengan cara. Pertama: mendukung komunitas kekerabatan
atau keluarga dengan mengkomunikasikan testimoni kunjungan ke Karimun misalnya testimoni Karimun adalah destinasi
yang ama, nyaman, murah, ramah, bersih. Kedua: mendukung atau membentuk komunitas blog di internet dengan
testimoni tentang destinasi Karimun; ketiga: mendukung atau kerja sama dengan asosiasi, kelompok, organisasi non
profit lain terkait berbagai bidang seperti ahli arkeologi, ahli biologi, ahli lingkungan, ahli kesehatan yang memilih
Karimun sebagai likasi-lokasi riset mereka.  4. Strategi Pemasaran Gerilya Karena dana pemasaran kecil, maka
dilancarkan serangan kecil dan terputus-putus pada berbagai wilayah pasar pesaing dengan tujuan memperoleh tempat
berpijak yang tepat bagi produk pariwisata Karimun. Strategi ini meliputi pembuatan paket-paket wisata pendek,
pemotongan harga paket wisata selektif, mengganggu diversifikasi produk pesaing, kejutan promosi intensif, misalnya;
Pertama: gerilya beruntun dengan promosi paket-paket kunjungan pendek ke Karimun    dan     harga    diskon     untuk
paket wisata, undian tiket penerbangan/ kapal  gratis, hotel gratis, lucky drow di beberapa lokasi pasar pesaing di
Singapura, Johor, Kuala lumpur; Kedua: mendukung travel agen lokal, perusahaan kapal ferry untuk menjual produk
pariwisata Karimun.  5. Horizontal Marketing Horizontal marketing atau New-Wave Marketing dapat dilaksanakan dengan
pendekatan vertical above the line dan below the line menuju pendekatan horizontal offline dan online. Offline,
mendekati komunitas untuk membuat kesaksian tentang destinasi Karimun. Online menggunakan teknologi informasi,
komunitas internet misalnya blog, facebook, maillist, memberikan cerita atau kesaksian tentang  Karimun. Dalam suatu
komunitas online internet biasanya mempunyai anggota dengan ketertarikan dan kepentingan yang sama seperti gaya
hidup, hoby, spiritual. Apabila ada seorang anggota maillist atau facebook menyampaikan testimony tentang
pengalaman berwisata ke Karimun maka informasi ini akan mempunyai dampak berganda karena para anggota
komunitas akan meneruskan testimoni tersebut kepada temannya atau kepada komunitas lainnya lagi, sehingga dapat
terjadi interaksi antar anggota bahkan antar komunitas.   6. Koordinasi Pemasaran pada Tingkat  Nasional, Daerah dan
Kecamatan  Pariwisata memerlukan koordinasi yang baik baik pada tingkat nasional maupun daerah, bahkan pada
tingkat kecamatan. Di tingkat nasional, Depbugpar menyediakan bantuan even pariwisata cukup besar dalam bentuk
bantuan produk-produk promosi. Daerah manapun di Indonesia yang memiliki kalender wisata dapat memanfaatkan
bantuan ini. Di tingkat daerah, propinsi dan kabupaten/kota juga perlu berkoordinasi disetiap even pariwisata agar
kegiatan pemasaran wisata tidak terkendala hal-hal yang bersifat birokratis. Yang paling penting adalah bagaimana
setiap daerah (kabupaten/kota) memiliki kalender wisata yang terkoneksi dengan agen-agen perjalanan, agen pesawat
terbang, agen kapal laut, hotel, restoran dan perusahaan penyediaan guide wisata. Pada tingkat kecamatan yang
www.arombai.com
http://arombai.com/catatan Menggunakan Joomla! Generated: 20 September, 2011, 04:36terpenting adalah bagaimana aparat menyiapkan kesiapan masyarakat menerima kunjungan-kunjungan wisatawan dan
pemeliharaan fasilitas publik, masalah kebersihan dan kesehatan tempat-tempat publik. Terlebih lagi bagaimana
pemerintah dan LSM menyiapkan masyarakat bersikap ramah, senyum dan melayani setiap wisatawan agar wisatawan
merasa nyaman berada di Kabupaten Karimun.    7. Program Pemasaran Terpadu Pemerintah Kabupaten Karimun
bertindak menjadi operator bagi travel agen dan tour operator di Karimun dalam hal memasarkan produk-produk
pariwisata. Pemda Karimun memadukan semua kepentingan agar memiliki kekuatan menghadapi pasar global
pariwisata, agar persaingan diantara tour operator dan travel agen menjadi energi positif didalam memasarkan dan
mengembangkan pariwisata di Karimun.     KEKUATAN PARIWISATA DAN KEKUATAN NEGARA  Kekuatan baru
dalam mempertahankan Negara pada abad 21 adalah dengan cara memperkuat ekonomi negara. Sumberdaya ekonomi
terbasar suatu Negara selain sumberdaya energi alam, adalah sumberdaya budaya, kekayaan intelektual, warisan
budaya, yang secara umum  dapat dikemas menjadi objek pariwisata. Menjelang akhir abad 21, telah terbukti bahwa
beberapa Negara di dunia ini dapat menjadi Negara kaya karena memanjual energi non oil seperti pariwisata. Destinasidestinasi terkenal di dunia yang menjadi sumber devisa negaranya seperti Bali, Roma, Mekah-Medina, Kualalumpur,
Karibia, Singapur, adalah contoh bahwa pariwisata adalah sumber devisa utama Negara non oil yang dapat dieksploitasi
tanpa batas. Malaysia umpamanya, dapat mengeksploitasi habis-habisan kekayaan wisatanya sehingga menjadi sumber
devisa utama bagi Malaysia. Di Malaysia, orang berjalan di sungai saja menjadi obyek wisata yang dipromosi dan jual
kepada wisatawan. Mereka mampu menjual apa saja yang bisa mereka promosikan sebagai obyek wisata. Dengan
pariwisata yang kuat, maka Negara akan kuat karena memiliki citra yang kuat sebagai destinasi yang indah, damai dan
nyaman untuk di kunjungi semua orang di dunia. Selanjutnya dengan pariwisata yang kuat maka kekuatan ekonomi
Negara menjadi kuat, sehingga secara langsung dapat mempertahankan Negara dari berbagai kekuatan negative dari
dalam dan luar negeri. Kabupaten Karimun adalah kabupaten yang strategis dalam memperhatahankan Negara
Indonesia karena posisinya ditepi Indonesia dan berhadapan dengan Malaysia-Singapur. Karena itu mendorong
pengembangan pariwisata Karimun adalah kekuatan utama untuk mempertahankan Negara Indonesia dari pengaruhpengaruh negativ kekuatan asing. Secara teori, bahwa pariwisata adalah suatu potensi yang dapat dikembangkan
dengan pencitraan. Suatu destinasi adalah realitas pencitraan yang dibangun berdasarkan potensi-potensi yang ada
pada destinasi itu. Jadi Kabupaten Karimun akan memiliki pariwisata yang sangat menarik apabila di citrakan sebagai
destinasi yang indah, menawan dan tak terlupakan apabila pencitraan itu disiapkan serta di konstruksi kepada pasar
wisata di dunia. Citra karimun sebagai destinasi yang menawan dan eksotik menjadi kekuatan utama Indonesia untuk
mendatangkan devisa sekaligus menjadi faktor dominan di dalam menangkal dominasi Malaysia-Singapur di kawasan
Selat Malaka.
    Kepustakaan:  
Oka A. Yoeti, Ekonomi Pariwisata, Jakarta: Kompas; 2008
Francois Vellas dan Lionel Becherel, Pemasaran Pariwisata International, Jakarta: Yayasan Obor, 2008
LS Sya, Branding Malaysia, Selangor; Oak Enterprise, 2005
Nigel Margon, Destination Branding, Boston; Elsevier, 2007
Bill Baker, Destination Branding for Small Cities, Origon; Creative Leap Book, 2007        

MENGENAL LEBIH DEKAT MANAJEMEN PEMASARAN PARIWISATA INDONESIA



MENGENAL LEBIH DEKAT MANAJEMEN PEMASARAN
PARIWISATA INDONESIA
OLEH:
Yulia Rahmi
0810531002

ABSTRAK

Pemasaran pariwisata jauh lebih kompleks sifatnya dibandingkan dengan memasrkan produk perusahaan manufaktur,yang umumnya berbentuk atau berwujud. Manajemen Pemasaran pariwisata itu sendiri, memiliki sifat ,karakter dan tantangan yang berbeda dari yang lain.
Setiap negara di dunia berkompetensi untuk merebut pangsa pasar wisatawab mancanegara, termasuk negara kita. Dengan mengkibarkan semangat “VISIT INDONESIA 2010 YEARS”. Hampir semua media komunikasi digunakan bangsa Indonesia untuk mempromosikan pariwisata Indonesia.

Masalah pemasaran pariwisata, bukan sebuah tantangan yang ringan, karena para penikmat wisata akan dengan mudah untuk melupakan Indonesia, jika Indonesia tidak memberikan high quality value bagi konsumennya. Kita sadar, sektor pariwisata memberikan lapangan pekerjaan serta sumbangan devisa yang besar. Oleh karena itu, manajemen pemasaran pariwisata sangat diperlukan,agar citra Indonesia tetap melekat di hati wisatawan.

PENDAHULUAN


Potensi keindahan alam Indonesia tidak dapat diragukan lagi keberadaannya. Indonesia yang terletak di daerah jamrud khatulistiwa selalu menyimpan keindahan dan keasrian alam. Secara tidak sengaja potensi pariwisata telah menjadi anugrah yang terindah. Tetapi ,Pariwisata itu hanya dikenal sebagian wisatawan mancanegara. Itu terjadi karena Indonesia masih terbelenggu dengan konsep penjualan. Maka dari itu jelas,Indonesia masih harus memperbaiki system manajemen pemasaran pariwisata.

Dari latar belakang tersebut, dapat dirumuskan suatu masalah, Seberapa efektif dan efisienkah manajemen pemasaran pariwisata Indonesia?

Adapun tujuan utama penulisan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh manajemen pemasaran terhadap pariwisata Indonesia. Metodologi artikel ini adalah studi pustaka.

Manajemen pemasaran pariwisata artinya system planning,organizing,actuating dan controlling terhadap pemberian nilai-nilai kepada wisatawan atas produk atau jasa pariwisata agar tercapainya kepuasan optimal wisatawan


PEMBAHASAN

POTENSI PARIWISATA

Indonesia yang beriklim iklim tropis menyimpan potensi pariwisata yang indah. Hampir setiap provinsi kita memiliki keunikan pariwisata tersendiri. Bentuk pariwisata kita adalah: pariwisata bahari, pariwisata museum, pariwisata pantai, pariwisata budaya dan lain- lain. Kita memiliki Pulau Bali yang sangat terkenal, Danau Toba di Medan, Taman Laut Bunaken di Sulawesi, Kebun Raya Bogor, Candi Borubudor, Pantai Pangandaran dan masih banyak lagi.

Tapi sayangnya potensi wisata kita belum ditanggani secara cermat, sehingga tidak semua objek wisata dikenal wisatawan.Kebanyakan wisatawan mancanegara hanya mengenal PULAU BALI, tapi mereka tidak tahu bahwa bali ada di Indonesia.Ini merupakan tugas besar bagi kita semua untuk memasarkan pariwisata kita.

Data BPS menunjukan, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia sepanjang Oktober 2009 mencapai 547,2 ribu orang atau naik 3,36 persen dibandingkan posisi tahun 2008 sebanyak 529,4 ribu orang.

Kunjungan terbesar pelancong asing tersebut sepanjang 10 bulan pertama 2009 sebagian besar tiba melalui Bandara Ngurah Rai, Bali, sebanyak 1.978.593 orang atau naik 14,23 persen. Sementara kunjungan Wisman melalui Bandara Soekarno-Hatta mengalami penurunan sebesar 5,46 % menjadi 1.132.158orang.

DAYA SAING PARIWISATA INDONESIA
Bila kita tiba-tiba ditanya : apa sesungguhnya kekuatan atau daya tarik pariwisata Indonesia yang membedakannya dengan negara lain, sehingga layak dijual ? Pada umumnya akan menjawab keindahan alamnya. Untuk yang jarang melakukan perjalanan wisata ke mancanegara maka jawaban tersebut mungkin benar karena memang tidak pernah melihat alam lain.
Bahkan di kawasan ASEAN saja pengelolaan pariwisata kita masih ketinggalan dibandingkan dengan Thailand atau Kamboja dengan Angkor Wat nya. Kesemuanya ini perlu dikemukakan agar tidak timbul arogansi yang sempit bahwa Indonesia adalah segalanya, terindah di dunia, cepat berpuas diri; sehingga dikiranya setiap warga dunia mendambakan untuk dapat berkunjung ke Indonesia dengan cara menabung atau cara lainnya.
Sesungguhnya keindahan alam ataupun peninggalan budaya secara fisik tidak lebih dari seonggokan gunung atau candi ataupun benda/bangunan lainnya, ataupun pantai yang indah yang juga dimiliki oleh berbagai negara yang lokasinya berdekatan dengan lumbung turis internasional. Karena tanpa adanya komunitas disekitar monumen, gunung atau pantai maka obyek wisata tersebut tidak lebih dari benda mati, tidak ada roh kehidupan dan bahkan tidak berarti apa-apa bagi pengunjung.
Oleh karena itu haruslah disadari bahwa kekuatan pariwisata Indonesia adalah terletak pada manusianya. Manusia yang hangat, ramah tamah, murah senyum dan gemar menolong tamunya, sehingga membuat “kangen” untuk kembali lagi. Karena sudah menemu kenali bahwa kekuatan pariwisata kita adalah manusia maka berbagai langkah penggarapan harus difokuskan kepada manusia sebagai pengelola.

Selain itu hendaklah disadari bahwa sektor pariwisata adalah penyedia kesempatan kerja yang sangat dominan yakni 10 % dari lapangan kerja di Indonesia dengan jumlah tenaga kerja langsung 7,3 juta dan yang tidak langsung 5 juta orang. Sehingga bila terjadi permasalahan yang menghambat kemajuan pariwisata pasti akan membawa dampak yang negatif terhadap ketersediaan lapangan kerja. Oleh karena itu berbagai strategi pun harus diarahkan ke sasaran penciptaan lapangan kerja atau paling tidak memelihara jumlah tenaga kerja yang ada sekarang.

KEGAGALAN PARIWISATA INDONESIA

Indonesia telah berusaha untuk mengenalkan pariwisata Indonesia dengan tema “visit Indonesia 2010. Tapi ,kenyataannya, belum sesuai yang diharapkan. Indonesia kalah saing dengan negeri jiran, dengan moto “malaysia truly asia. Apa penyebabnya? Tentu pemasaran serta bauran pemasarannya.
Jaminan keamanan juga menjadi faktor utama, meskipun tidak ada satu pun negara di dunia yang menjamin bahwa wisman nya akan aman ketika tinggal di negaranya. Pada tahun 2009, pasca ledakan Bom di hotel J.W marriot dan aktivitas gempa sangat mempengaruhi pariwisata.Yang mereka perlukan adalah “ signal ” bahwa Indonesia bersungguh-sungguh menjaga keamanan.

Pemerintah dan pelaku pariwisata sepakat untuk lebih fokus memasarkan Indonesia dengan prioritas ke negara jiran ( short-haul ) dan rejional ( medium haul ). Disamping 70% wisman Indonesia memang berasal dari segmen pasar ini, terdapat pula kecenderungan akan makin sedikit manusia yang berpergian terlalu jauh dari tempat tinggalnya hanya untuk berwisata. Terlalu banyak resiko terutama yang terkait dengan keamanan dan kenyamanan serta efisiensi karena pariwisata saat ini berhadapan dengan “ time poor – money rich people ” (punya harta tetapi miskin waktu).

Menempati kedudukan ke-81 di antara 133 negara di dunia, Indonesia berada di posisi ke-15 dari 25 negara di kawasan Asia Pasifik dan ke-5 di antara 8 negara ASEAN (yang ikut dinilai).Dalam hal kekuatannya, Indonesia menempati kedudukan ke-28 dalam hal kekayaan alamnya, karena dukungan beberapa obyek wisata Warisan Dunia serta kekayaan faunanya yang dinilai melalui spesies yang terkenal sebagai miliknya.

SISTEM MANAJEMEN PARIWISATA INDONESIA

Pemasaran pariwisata jauh lebih kompleks sifatnya dibandingkan dengan memasarkan produk perusahaan manufaktur yang umumnya berbentuk atau berwujud. Oleh karena itu sebelum memasarkan pariwisata, seorang penjual haruslah memahami dan mengerti benar sifat dan karakter produk yang akan ditawarkan kepada pembeli (wisatawan). Dalam pariwisata transaksi penjualan tidak mengakibatkan pemindahan hak milik,proses produksi dan konsumsi jatuh pada saat bersamaan.

Travel Motivation are Heterogeneous. Tiap orang melakukan perjalanan wisata dengan motivasi yang berbeda-beda. Motivasi itu ada yang rasional dan ada pula yang tidak rasional. Seseorang mungkin ikut tour untuk menyaingi tetangganya yang baru saja kembali Umroh (tidak rasional), sedang orang lainnya ikut tour karena ingin menyaksikan EURO di NegeriBelanda.
Dari sisi industri harus pula dilakukan restrukturisasi industri mirip yang dilakukan oleh industri perbankan yang mempersyaratkan minimal modal setor, mengingat kondisi struktur permodalan industri pariwisata Indonesia sangat lemah, bila kita ambil contoh kelompok biro perjalanan wisata (BPW) yang seharusnya dijadikan prioritas pembenahan. Karena ujung tombak kegiatan pariwisata sesungguhnya ada pada biro perjalanan wisata (BPW) yang mempunyai fungsi mengemas paket-paket wisata untuk ditawarkan kepada konsumen baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga setiap BPW benar-benar mempunyai kemampuan sebagai DMC ( destination management corporation ) tidak hanya sekedar berfungsi sebagai agen penjualan tiket seperti yang terjadi saat ini.

Dengan adanya DMC maka setiap perjalanan akan menjadi lebih efisien, berkualitas dan dapat dibuatkan standar harga yang ditaati oleh pihak-pihak terkait dan persaingan hanya boleh dilakukan di segi pelayanan saja. Hal ini yang tidak pernah terpikirkan oleh pemerintah Indonesia sehingga walaupun secara formal mereka bernaung dalam satu asosiasi tapi perselisihan bahkan upaya saling mematikan sering terjadi. Kelemahan BPW lainnya adalah lemahnya permodalan sebagian besar perusahaan tersebut dan tidak memiliki akses kepada sumber pendanaan (bank). Sehingga dalam negosiasi dengan mitra kerja asing, BPW Indonesia akan selalu berada di pihak yang lemah dan tidak dapat menentukan, tetapi selalu ditentukan.
Kondisi ini sebenarnya dapat dimaklumi karena lebih dari 90 % BPW tergolong UKM dengan permodalan yang lemah. Mereka umumnya berasal dari para pemandu wisata yang ingin mandiri dengan mendirikan BPW lepas dari induk asalnya. Sehingga otomatis kemampuan manajerial terbatas dan visi bisnis pun akan terbatas pula. Untuk menyiapkan Indonesia dimasa depan maka harus ada keberanian untuk melakukan restrukturisasi BPW dengan menetapkan permodalan minimal ataupun merger sehingga BPW dapat lebih kuat posisi tawarnya ( bargaining position). Dan pada lima tahun mendatang diharapkan Indonesia sudah memiliki BPW yang kuat, dan profesional sehingga memiliki kemampuan penetrasi ke pasar mancanegara. Demikian pula dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) pemandu wisata pun harus dapat ditingkatkan dengan melakukan pengketatan pemberian linsensi sebagai pemandu wisata yang selalu di perbaharui pada periode tertentu untuk meningkatkan standar kualitas kemampuannya.

Dalam hal ini Indonesia dapat mencontoh dan belajar dari Malaysia dan Thailand dalam menyiapkan tenaga terampil dibidang ini. Selain itu penguasaan di bidang teknologi informasi pun harus lebih ditingkatkan mengingat bahwa kita berhadapan dengan computer literate generation , sehingga if you are not online- you are not on sale .




KESIMPULAN

1. Indonesia memiliki potensi pariwisata yang indah, tapi belum dikelola dengan baik.
2. Manajemen pemasaran yang kompetitif sangat dibutuhkan untuk perkembangan pariwisata.

SARAN

1. Industri travel Indonesia harus lebih berani promosi ke luar negeri agar tidak kalah saing.
2. Untuk pemerintah, agar lebih focus serta menyediakan dana yang optimal.
3. Dan untuk bangsa Indonesia, agar melakukan sapta pesona serta cintailah bangsa kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

www.kompas.com
www.kabarindonesia.com
www.ensiklopedia.com
www.detik.com

Pembangunan Kepariwisataan di Indonesia


1.     Sistem Pariwisata Nasional
Industri pariwisata nasional merupakan suatu sistem yang terdiri dari permintaan,penawaran dan lingkungan.
 permintaan merupakan sesuatu yang diinginkan oleh wisatawan, sesuatu yang dicari wisatawan atau keinginan wisatawan. Permintaan ini dipengaruhi olehfaktor individual yaitu sosok wisatawan, baik yang menyangkut demografiswisatawan (umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pendidikan, dan sebagainya), maupun  psiko-grafi, (seperti  sikap, gaya-hidup, motivasi berpergian dan minat wisatawan). Jenis permintaan, keinginan dan sesuatu yang dicari wisatawan ini akan berbeda-beda tergantung dari beberapa faktor diatas. Sebagai contohnya, wisatawan dengan usia muda 14-30 tahun, akan memiliki permintaan yang berbeda dengan wisatawan usia 55 tahun keatas. Wisatawan mancanegara dari Eropa, akan memiliki permintaan yang berbeda dengan wisatawan asal Jepang.
Pariwisata Foto By Google
Pariwisata Foto By Google
     penawaran. Terdiri dari sejumlah faktor, seperti atraksi, akomodasi, transportasi, SDM, kelembagaan, amenitas, dan sebagainya. Berbeda dengan permintaan, penawaran ini berada sepenuhnya dalam jangkauan perumus kebijakan (Misalnya: Departemen pariwisata, Dinas Pariwisata, Pengelola Desa Wisata). Bentuk kebijakan kepariwisataan ini akan ditentukan oleh visi pembangunan pariwisata yang diadopsi oleh suatu negara dan bangsa dengan memperhatikan dinamika sisi permintaan tadi. Misalnya, pengembangan pariwisata di Candi Borobudur, direncanakan dan dibiayai oleh Dinas Pariwisata bekerjasama dengan Departemen Pariwisata dan Masyarakat setempat. Pengembangan berupa: Pusat informasi, parkir, Toilet, Gedung Pertemuan, mushola, homestay, papan penunjuk arah, dan sebagainya. Produk yang telah siap inilah yang ditawarkan kepada calon wisatawan.
             Lingkungan Kepariwisataan. Mencakup situasi politik, ekonomi, keamanan  dan sebagainya di negara tujuan wisata yang dapat mempengaruhi sifat interaksi antara permintaan dan penawaran. Pembangunan pariwisata pada hakekatnya merupakan upaya untuk membawa kepariwisataan menuju sistem kepariwisataan yang  dipandang lebih bermanfaat atau lebih baik, melalui proses perencanaan, dengan memperhatikan perubahan yang terjadi. Proses perencanaan tadi dilakukan  dengan merubah faktor permintaan dan penawaran tadi sesuai dengan visi yang menjadi referensi pembangunan suatu negara.
 2.     Hal-Hal Penting Dalam Pembangunan Kepariwisataan
 Di dalam proses pembangunan nasional pada umumnya, serta pembangunan kepariwisataan pada khususnya, hal-hal penting pembangunan selalu akan muncul, baik pada tataran paradigmatik, kebijakan, strategi, maupun program. Hal ini disebabkan karena di dalam proses pembangunan, para perumus kebijakan dan pengambil keputusan akan selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Apa yang dipandang sebagai “lebih baik” atau “lebih bermanfaat” bersifat relatif, dan seringkali bersifat subjektif.
 2.       Orientasi Pembangunan Kepariwisataan: Pertumbuhan versus Pemerataan
Di satu sisi sektor pariwisata dipandang sebagai sektor andalan yang akan menjadi penghasil devisa utama, di sisi lain sektor ini juga diharapkan untuk dapat berfungsi sebagai wacana pemerataan melalui perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Kedua misi tadi
akan menentukan sosok wisatawan yang akan menjadi prioritas utama, dan implikasinya pada strategi promosi, pengembangan produk dan attraksi, pembangunan akomodasi dan prasarana, kebijakan pemanfaatan sumber, impor dan sebagainya.
 Kebijakan pembangunan pariwisata yang berorientasi pada peningkatan perolehan devisa cenderung menempatkan wisatawan nusantara pada posisi sekunder serta memberi prioritas yang tinggi pada wisata-mancanegara yang bersifat wisata massal. Sifat-sifatnya seperti
  1. program perjalananannya distandardisasikan, dikemas secara tegas, dan tidak lentur;
  2. program perjalanannya disusun berdasarkan peniruan massal dari unit-unit yang sama yang mengandalkan skala ekonomi sebagai pendorong utamanya;
  3. program perjalanannya dipasarkan secara massal pada seluruh lapisan masyarakat;
  4. program perjalannya dikonsumsi secara massal dan kurang memperhatikan norma, budaya, masyarakat dan lingkungan setempat di daerah tujuan wisata.
 memang hal ini mempunyai potensi yang lebih besar untuk menghasilkan devisa. Namun karena wisata massal ini cenderung memanfaatkan teknologi canggih yang padat modal serta menggantungkan berbagai inputnya pada komoditi yang diimpor, maka peluang kerja yang ditimbulkan cenderung terbatas, karena sosok pariwisata yang demikian terutama menyerap tenaga kerja professional yang berpendidikan dan berketrampilan tinggi. Obsesi untuk meningkatkan perolehan devisa dan manfaat ekonomi menyebabkan wisata massal tadi berwawasan jangka pendek, karena  mekanisme pembentukan harga di pasar dan proses ekonomi  cenderung kurang memperhatikan pengorbanan sosial yang ditimbulkan pariwisata, seperti sempitnya akses pada peluang kerja.
 Apabila industri kepariwisataan ingin berhasil dalam mengemban misinya sebagai wacana pemerataan pendapatan melalui perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, maka pembangunan kepariwisataan harus memberi perhatian pada pariwisata alternatif.  Secara umum pariwisata alternatif ini dapat didefinisikan sebagai:
 Berbagai bentuk pariwisata yang sesuai dengan nilai-nilai alami, sosial dan komunitas dan yang memungkinkan baik wisatawan maupun masyarakat setempat menikmati interaksi yang positif dan bermanfaat dan bertukar pengalaman.”
 Karena sifatnya yang demikian, maka berbagai variant dari pariwisata alternatif ini seperti pariwisata minat khusus dan pariwisata yang berbasis komunitas dan sebagainya, lebih memberi kemungkinan bagi perwujudan misi pariwisata sebagai wacana pemerataan pendapatan dan perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Sifat-sifat spesifik yang menjadi esensi pariwisata yang berbasis komunitas, seperti:
  1. berskala kecil sehingga bersahabat dengan lingkungan, secara ekologis aman, dan tidak menimbulkan banyak dampak negatif seperti yang dihasilkan oleh jenis pariwisata konvensional yang berskala massif;
  2. memiliki peluang lebih mampu mengembangkan obyek-obyek dan atraksi-atraksi wisata berskala kecil dan oleh karena itu dapat dikelola oleh komunitas-komunitas dan pengusaha-pengusaha lokal serta menimbulkan dampak sosial-kultural yang minimal, dan dengan demikian mempunyai peluang yang lebih besar untuk diterima masyarakat;
  3. memberi peluang yang lebih besar bagi partisipasi komunitas lokal untuk melibatkan diri di dalam proses pengambilan keputusan dan di dalam menikmatikeuntungan yang dihasilkan oleh industri pariwisata dan karenanya lebih memberdayakan masyarakat; dan
  4. mendorong keberlanjutan budaya dan membangkitkan penghormatan para wisatawan pada kebudayaan lokal.
 Secara formal pengembangan pariwisata yang berbasis komunitas ini merupakan kebijakan resmi pemerintah sebagaimana tersirat dalam prinsip kepariwisataan Indonesia yang dirumuskan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang mencakup prinsip:
  1. Masyarakat sebagai kekuatan dasar;
  2. Pariwisata: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat; serta
  3. Pariwisata adalah kegiatan seluruh lapisan masyarakat, sedang pemerintah hanya merupakan fasilitator dari kegiatan pariwisata.
 Sedangkan realisasi dari prinsip ini tertuang di dalam 7 Program Pokok dalam Kaitannya dengan Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Sektor Pariwisata yang terdiri dari:
(i)                Pengembangan Ekowisata;
(ii)              Desa Wisata;
(iii)            Pariwisata Inti Rakyat;
(iv)            Kemitraan;
(v)              Pengembangan usaha rakyat kecil & rumah makan;
(vi)            Pemberdayaan masyarakat sekitar obyek wisata; dan
(vii)          Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pariwisata.
 Di dalam perspektif jangka pendek, pilihan itu menuntut kesediaan pemerintah yang sulit dilakukan untuk mengkompromikan menurunnya penurunan devisa dari sektor pariwisata untuk memperoleh efek distributif yang lebih besar, namun di dalam jangka panjang perubahan  segmentasi psikografi akan mengarahkan pembangunan pariwisata kearah perwujudan pariwisata alternatif tadi.
 2.2.          Pemanfaatan versus Konservasi dan Pelestarian
 Misi untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber devisa utama sebagai penopang pertumbuhan ekonomi seringkali membawa pemikiran perumus kebijakan pada aspek-aspek kwantitatif pariwisata. Pembangunan pariwisata diartikan sebagai bagaimana memfasilitasi kedatangan wisatawan sebanyak mungkin, dengan lama tinggal selama mungkin dan membelanjakan uangnya sebanyak mungkin. Proyeksi-proyeksi dilakukan untuk mengestimasi efek pengganda pariwisata. Obsesi untuk memfasilitasi datangnya wisatawan ini seringkali melupakan pertimbangan daya-dukung daerah tujuan wisata, yaitu jumlah maksimum wisata yang dapat memanfaatkan kawasan wisata tanpa merubah lingkungan fisik dalam intensitas yang tidak dapat diterima dan tanpa menurunkan kualitas pengalaman wisata dalam intensitas yang tidak dapat diterima, serta tanpa menimbulkan efek negatif pada masyarakat, ekonomi dan budaya di sekitar kawasan wisata di dalam intensitas yang tidak dapat diterima.
 Di sini timbul dilema antara pemanfaatan dan pelestarian obyek dan daya tarik wisata (warisan alam, cagar budaya, dan sebagainya). Pada hakekatnya warisan alam dan cagar budaya hanya dapat mempunyai makna apabila dimanfaatkan melalui interpretasi-interpretasi, dan interpretasi ini dilakukan melalui pengalaman wisatawan yang seringkali dibantu oleh para pemandu wisata.  Akan tetapi di sisi lain pemanfaatan yang melampaui daya-dukung  cenderung berdampak negatif dan karenanya perlu upaya konservasi dan pelestarian. Untuk mengatasi hal ini timbullah konsep pariwisata berkelanjutan.
 Konsep pariwisata yang berkelanjutan ini sebenarnya merupakan derivasi dari konsep sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan yang oleh United Nations Environmental Programme (UNEP) didefinisikan sebagai:
 “. . . pembangunan yang memperbaiki kualitas hidup manusia dalam kisi-kisi daya dukung yang mendukungnya.”
 Dari apa yang dirumuskan oleh UNEP tersebut di atas, World Tourism Organization (WTO) kemudian merumuskan konsep pariwisata yang berkelanjutan tadi sebagai berikut
 “. . . pariwisata yang memuaskan kebutuhan wisatawan dan kawasan wisata pasa saat ini seraya melindungi dan meningkatkan peluang di masa datang. Hal ini diartikan sebagai sesuatu yang mengarah pada manajemen berbagai sumber sedemikian rupa sehingga kebutuhan ekonomi, sosial, estetika dapat terpenuhi seraya mempertahankan integritas kultural, proses ekologi yang esensial, keanekaragaman hayati dan sistem penopang hidup.”
 Pemerintah Indonesia sebenarnya telah meletakkan rambu-rambu menuju terciptanya pariwisata yang berkelanjutan ini, antara lain sebagaimana dirumuskan dalam berbagai perundang-undangan seperti  UU no. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya; UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya: dan UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Adalah menjadi tanggung-jawab mereka yang bergerak di dalam bidang industri wisata yang harus dapat merekonsiliasikan antara pemanfaatan dan penafsiran di satu pihak, dan pelestarian dan konservasi di lain pihak. Namun, lebih dari itu, untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan tadi diperlukan visi yang luas yang mencakup kerangka waktu dan kerangka ruang yang lebih luas dari apa yang biasanya berlaku di dalam perencanaan pembangunan pariwisata yang konvensional. Tidaklah cukup untuk sekedar menerapkan prinsip-prinsip perencanaan pembangunan pariwisata yang konvensional seperti pengaturan tata-ruang, pengelompokan, pengintegrasian antara atraksi dan fasilitas, interdependensi antara atraksi dan fasilitas, interdependensi antara atraksi alam dan atraksi budaya, berbagai cara untuk memperluas akses, elastisitas, diversitas dan komplementaritas, analisis biaya dan manfaat, serta analisis daya dukung, dan lain sebagainya.
Di samping itu, beberapa acuan perlu diikuti, seperti:  (i) Adanya kebijakan kepariwisataan umum yang mencantumkan tujuan pariwisata yang berkelanjutan pada tingkat nasional, regional, maupun lokal; (ii) Parameter-parameter yang digunakan untuk merencanakan, mengembangkan, dan melaksanakan industri pariwisata haruslah terintegrasi dan bersifat lintas sektoral yang mengikutsertakan berbagai departemen, pemerintah dan swasta, para pakar, masyarakat sehingga menjamin kesuksesan; (iii) Di dalam merencanakan proyek-proyek pembangunan kepariwisatan perlu penekanan pada perlindungan aset alam dan budaya dengan mempertimbangkan pemanfaatan sosio-ekonomis yang layak dari lingkungan fisik-alami dan lingkungan buatan serta dampak kegiatan manusia atas dampak tadi; (iv) Perlu ada upaya-upaya agar para wisatawan serta mereka yang terkait dengan industri pariwisata mengikuti etika dan aturan-aturan yang mengatur perilaku yang sehat dan konservatif yang menyangkut alam, budaya, ekonomi, sistim nilai masyarakat, sistem politik, pengelompokan sosial dan kepemimpinan; (v) Distribusi proyek pembangunan pariwisata haruslah mengacu pada nilai-nilai keadilan, yang mendistribusikan secara adil manfaatpariwisata di antara berbagai kelompok dan regional; (vi) Kesadaran masyarakat akan manfaat pariwisata serta bagaimana memitigasikan dampak negatif pariwisata haruslah selalu ditingkatkan; dan (vii) Masyarakat setempat perlu didorong untuk memainkan peranan kepemimpinan dalam pembangunan pariwisata dengan bantuan pemerintah, swasta, lembaga-lembaga keuangan serta universitas.
 2.3.          Peranan Negara dan Peranan Swasta dalam Industri Pariwisata.
 Hal penting lain yang mewarnai pembangunan pariwisata adalah pilihan antaraindustri pariwisata yang didorong oleh kekuatan-kekuatan pasar danpembangunan pariwisata yang dipimpin oleh negara. Pilihan di antara kedua kutub tadi akan dipengaruhi oleh paradigma pembangunan yang diadopsi oleh suatu negara, akan tetapi juga tidak lepas dari pengaruh konfigurasi yang melingkupinya, khususnya kecenderungan globalisasi dan liberalisasi yang agaknya menjadi alur pikir yang dominan pada saat ini. Namun agaknya pilihan di antara kedua kutub alternatif peranan negara dan swasta ini tidaklah bersifat statis.
 Meskipun kecenderungan di banyak negara pada umumnya adalah mengacu pada pemikiran konvensional yang menyerahkan pembangunan pariwisata pada mekanisme pasar dan dengan demikian memberi peranan yang lebih besar pada sektor swasta, namun bergeraknya pendulum ke kutub pemberian peranan yang lebih besar pada negara juga dapat dicermati. Dalam hubungan ini Butler menegaskan bahwa “sifat pariwisata dalam batas-batas tertentu menentukan sifat dan pola pertumbuhan suatu negara dan, apabila tidak dikendalikan dan dikuasai, industri pariwisata akan dapat menimbulkan berbagai permasalahan.” Interaksi yang tidak terkendali di dalam mekanisme pasar pada akhirnya akan dapat melampaui batas daya dukung kawasan wisata, dan karenanya akan mengganggu keberlanjutan wisata. Oleh karenanya, banyak pakar yang menganjurkan perlunya kesadaran para pengambil keputusan akan ketidak-sempurnaan pasar dan melalui kebijakan pemerintah ketidak-sempurnaan pasar tadi akan dapat dikoreksi sehingga kecenderungan terjadinya ketidakseimbangan dan timbulnya posisi monopolistik swasta maupun pemerintah dapat dicegah.
 Di samping itu mempercayakan  sepenuhnya industri pariwisata pada interaksi antara pelaku ekonomi di dalam mekanisme pasar mungkin dapat meningkatkan efisiensi, akan tetapi efisiensi di dalam konotasi Pareto optimum dan di samping itu dapat pula memperlebar kesenjangan. Oleh karena itu perlu diciptakan keseimbangan antara kedua sistem tadi. Oleh karena itu di dalam batas-batas tertentu perlu upaya yang oleh Robert Wade diistilahkan sebagai “mengendalikan pasar”.
 Bentuk kebijakan pemerintah dalam industri pariwisata tadi dapat bermacam-macam, mulai dari menetapkan syarat-syarat dan mengarahkan investasi, mengatur akses terhadap tanah, misalnya hanya memperbolehkan sewa-tanah untuk jangka panjang, membangun infrastruktur, mempengaruhi nilai-tukar, dan sebagainya. Keikutsertaan pemerintah dalam orientasi, pengaturan, dan pengawasan industri pariwisata mungkin masih diperlukan di dalam konteks ketidaksempurnan pasar, upaya untuk mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan, maupun pemeratan pendapatan.
 2.4.          Wisman dan Wisnus: Persaingan atau Komplementaritas
Di dalam berbagai ketentuan formal maupun di dalam berbagai fora  pemerintah selalu menegaskan bahwa industri pariwisata diharapkan akan menjadi sumber devisa utama. Implikasi dari kebijakan ini adalah bahwa segmen pasar utama yang menjadi fokus perhatian pemerintah adalah Wisatawan Mancanegara. Kebijakan ini menimbulkan dilemma bagaimana posisi Wisatawan Nusantara vis-àvis Wisatawan Mancanegara. Persoalan ini timbul karena menurut hasil penelitian Myra P. Gunawan Wisatawan Nusantara mempunyai potensi yang cukup besar untuk memberikan kontribusinya pada pembangunan nasional.
 Memang Efek pengganda pengeluaran Wisatawan Mancanegara lebih besar dibandingkan dengan Wisatawan Nusantara, yaitu 2,99 berbanding 1, karena mata rantai transaksi untuk memenuhi kebutuhan Wisatawan Mancanegara lebih panjang dibandingkan Wisatawan Nusantara. Akan tetapi karena jumlah Wisatawan Nusantara jauh lebih banyak, maka kontribusinya terhadap penciptaan peluang kerja tidak dapat diabaikan.  Memang pengeluaran Wisatawan Nusantara ini mungkin lebih sederhana jika dibandingkan dengan pengeluaran Wisatawan Mancanegara, akan tetapi pengeluaran tadi lebih langsung diterima oleh masyarakat penghasil barang konsumsi dan melalui mata rantai yang lebih pendek.
 Memang di antara kedua pilihan tadi ada plus dan minusnya. Komoditi yang dikonsumsi Wisatawan Mancanegara merupakan komditi berteknologi tinggi dan menyentuh kepentingan kelompok atas serta mempunyai kaitan yang panjang, sedangkan komoditi yang dikonsumsi Wisatawan Nusantara merupakan komoditi yang sederhana, akan tetapi lebih terkait dengan pendapatan masyarakat kecil. Karena bulan-bulan puncak kunjungan Wisatawan Mancanegara dan Wisatawan Nusantara tumpang-tindih atau berkoinsidensi, yaitu pada bulan Juni-Juli dan Desember, dan karena distribusi spatial Wisatawan Mancanegara dan Wisatawan Nusantara sama, maka akan terjadi kompetisi pemanfaatan kapasitas fasilitas maupun sarana dan prasarana wisata. Hal ini merupakan isu yang harus dipecahkan oleh perumus kebijakan.
 Sebagai sebuah Kawasan Ekowisata yang baru di Kembangkan di Yogyakarta kami pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran berharap kepada semua pihak yang memiliki kepedulian dalam perkembangan pariwisata di kawasan kami untuk bisa melakukan kerjasama. Semoga rintisan pengembangan pariwisata di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul memberikan dampak positif di masyarakat. Tetap Semangat dan Terus Berkarya…!!! (Sugeng Handoko)

Minggu, 18 September 2011

Nasakom Termasuk Budaya Bangsa


Banyak orang pobia terhadap nama nasakom, karena disana terdapat unsur komunis, tetapi kalau diselami  lkebih dalam, nasakom sebenarnya merupakan akar budaya bangsa, coba ikut renungkan tulisan ini,..
Sukarno adalah seorang idealis, filosofis, dan spiritualis.
Seorang Idealis artinya dia mempunyai idiologi yang jelas batasannya dan tegas pelaksanaannya.Seorang Filosofis, artinya dia bisa membaca  situasi secara fisikal, maupun metafisk, mempunyai pandangan global, empat dememsi , maksudnya dia bisa membaca dengan mata telanjang apa adanya, dan bisa juga membaca apa yang terjadi dibalik pandangan kasat mata itu, sehingga bisa menentukan  arah  perjalanan bangsa.. Kemudian seorang spirituali, artinya dia bisa menemukan  Tuhan didalam dirinya, sehingga dia tidak merasa takut dengan apapun, dengan siapapun, karena akar ideologinya berada di alam spirit.
Suharto adalah murid Sukarno, dia mewarisi ketiga kretiria tersebut, maka itu keluarnya sp-11 maret bukan  rekayasa pak Harto,  tetapi Bung Karno sudah melihat, kemampuan Suharto.
Banyak jendral senior diatas pak Haro, diantaranya Jendral Nasution, kenapa sp-11 maret dipercayakan kepada seorang kolonel,.? Karena Suharto adalah  murid idealis, filosofis dan spiritualnya sukarno , dia diperintahkan untuk menyelamatkan bangsa, itulah makna sp-11 maret.  Kenapa Suharto membubarkan PKI, karena  secara hukum, pki adalah pembrontak, mereka melakukan kupdeta . Dalam sidang Mahmilub, Suparjo mengatakan “saya masih memegang pasukan, sanggup menghadapi Suharto, tetapi Bungkarno memerintahkan saya untuk meletakkan senjata”  Hal ini menunjukkan Sukarno lebih percaya kepada Suharto dari pada jendral2 lainnya.
Nasakom adalah  ideologi gabungan antara Nasionalisme, Agamawan, dan Komunisme, sama dengan mengabungkan Macan, Beruang dan Singa dalam satu kandang.  Semasih pawangya kuat,  ketiga binatang itu  masih bisa duduk dan makan bersama, walaupun saling memperliatkan taring dan kukunya.
Melihat pawangnya sudah sakit, diperkirakan  sudah mati, beruang mengobrak-abrik  kandangnya, kemudain pawang memanggil muridnya,  dengan sp-11 maret diperintahkan untuk memperbaiki kandangnya.. Murid tidak sekaliber gurunya dapat menjinakkan ketiga binatang buas itu, dia ambil senjata, bruang yang sedang  mengamuk ditembek dengan obat bius,  akibatnya fatal.  Beruang yang sudah koma dicabi-cabik oleh  singa dan macan, terjadilah pembantaian yang tidak terkendali.
Singa dan macan yang sudah kenyang makan daging beruang, duduk manis, kesempatan itu digunakan oleh pawang kecil untuk memperbaiki kandang, makanya didalam kandang sekarang  terdapat dua binatang buas,. Didalam darah macan maupun darah singa  sudah mengalir darah beruang, maka itu sesungguhnya didalam kandang masih ada beruangnya yang tidak nampak,. Lihatlah ideologi komunis ada dalam agama, ada juga pada nasionalis tetapi partainya tidak ada.
Untuk menjinakkan kedua binatang buas itu, pawang masuk kedalam kandang mmakai baju kuning, makanya didalan kandang sekarang terdapat tiga penghuni, yaitu dua binatang buas dan satu pohon beringin.
Setelah pawang kecil mati, pohon beringin  dimakan oleh singa, macan mohon belas kasihan singa agar jangan dikeluarkan dari kandang, maka singa memberikan dia sebuah kursi supaya macan duduk manis. Tinggal tunggu waktu saja, macan akan menjadi bianatang liar hidup berkeliaran diluar kandang, karena tidak lama lagi habitatnya sudah habis, mereka akan punah dimakan zaman.
Sama halnya dengan Panca Sila, Nasakompun digali dari budaya bangsa,  karena  panca sila kalau diperas menjadi  Nsakom, kalau Nasakom diperas menjadia  “Bineka Tunggal Ika”
Mari kita lihat kenyataan yang ada dalam masyarakat kita. Setiap hari jumat, banyak anak2 muda berkumpul diluar mesjid,  cuwek mendengarkan kotbah/doktrin agama,  setelah waktu sembahyang barulah mereka masuk,. Di Bali juga demikian, anak2 muda ngerumpi diluar sementara para pemangku melakukan acara yadnya didalam, setelah acara mebakti barulah mereka msuk.  Gejala apa ini,..? hal ini menunjukkan bahwa  anak2 muda percaya adanya Tuhan, tetapi tidak  percaya kepada doktrin2 agama. Mereka lebih suka mendengarkan kotbah2 moralitas seperti kotbahnya kiayi sejuta umat., dari pada mendengar kotbah2 ortodok membawakan ayat2 zman Jahilih, yag tidak releven dengan zaman sekarang.  Mereka yang masuk partai komunis, bukan mereka itu atheis, mereka orang beragama, percaya kepada Tuhan, tetapi menginginkan kehidupan sosial yang lebih adil dan merata,. Misalnya tuan tanah mempunyai banyak sawah, petani yang mengarap sawahnya hanya mendapatkan sepertiga dari hasilnya, apakah itu adil ? ,. Keadilan itulah yang dperjuangkan oleh pki, kaum buruh yang bekerja  berat gajinya hanya sedikit, majikan goyang kaki, kekayaannya makin menumpuk, itulah tatanan  masyarakat yang tidak adil.  Dari situlah munculnya  slogan kelompok proletar, kelompok marhaen, kelompok tertindas,  yang memperjuangkan keadilan sosial bagi sluruh rakyat indonesia.. Itulah komunis Indonesia, yaitu komunis yang beragama, tetapi memperjuangkan kehidupan sosia yang lebih adil.. Lihatlah para pertani yang berdemo menuntut hak atas tanahnya yang diambil  konglomeret, lihatlah pedagang kecil yang lapaknya dibuang , karena mengangu kenyamanan para konglomeret naik mobil, itulah tatanan masyarakat yang idak adil.
Di negara barat, negara2 yang sudah maju, bahkan dinegara komunis  seperti  Cina dan Rusia ideologi komunuis tidak dipakai lagi, walaupun mereka tetap menyebutkan dirinya negara komunis, tetapi dalam masyarakat sudah berkembang ideologi kapitalis..
Kalau di Indonesia maysrakatnya sudah hidup layak. Tatanan msyarakat sudah adil,  ideologi komunis tanpa diberantas dia akan lenyap.. Demikian pula agama, yang berkiblat kebelakang setelah anak mudanya bisa berpikir realistis dan logis, doktrin agama akan ditinggalkan, agama akan dilindas oleh roda sciences dan moderisasi.
Akhinya nasinalismepun akan lenyap ditelan globalisasi.
Negara2 maju sudah mengibarkan bendera golabalisa,  menentang keras proteksionis, apa artinya ini,..? Nasionalisme negara berkembang, apalagi negara miskin tidak ada artinya,  karena hasil buminya dikelola oleh negara maju, kemudian dipasarkan kembali kepada  penduduk pribumi dengan harga yang ditentukan mereka. Penduduk pribumi seperti mobil, cukup diberi bensin dan oli agar tetap bisa hidup, bisa bekerja menjalankan pabrik2 mereka.
Apakah kekuatan nasionalisme menentang golbalisasi,.? Bukan saja menentang, bahkan kita mengundang mereka datang, karena kita tidak mempunyai kemampun  untuk berdiri.
Korea, Cina, Vitnam, dan India “bangkit”, setuju dengan globalisasi dan menentang proteksionisme karena mereka akan mendapat keuntungan.
Indonesia mendapat keuntungan  berupa lapangan kerja, sama dengan mobil, diberi upah cukup untuk hidup, dan akan terus eperti itu sampai hasil bumi kita habis. Kita tidak mempunyai pilihan lain, kita seperti orang kampung yang kaya, mempunyai uang banyak dipercyakan  kepada orang kota menyimpan uangnya di bank, orang kampung  sudah senang,  bisa hidup enak  tanpa  bekerja.   Di Bali orang ngumpul  kekayaan, sudah banyak uang buat yadnya, yang  biayanya  puluhan sampai ratusan juta.  Orng  Islam ngumpul uang, sudah banyak naik haji. Ada juga orang banyak uang tetapi tidak tahu unuk apa uangnya,, mereka masukkan di bank penipu, akhirnya uangnya habis percuma.
Saya sarankan kepada mereka yang banyak uang, marilah kita bermain,  buat usaha sebagai suatu permainan, santai tetapi serius, buat suatu usaha apapun , jangan takut gagal, karena hidup ini adalah permainan, uang  itu datang dan pergi. Pemikiran yang demikian akan menimbulkan ide-ide bisinis, kemudian akan berkembang menjadi bisinisman. Jangan anak2 didik menjadi kuli, mengharapkan gaji besar tetapi kerja ringan, yaitu pns, atau rame-rame jadi tki. Yang punya uang beli kapal2 penangkap ikan, sebab ikan kita banyak, tetapi diambil orang lain. Hasil hutan diambil negara tetangga, lalu kita menjadi kuli mereka. Mari kita buat pabrik pengolahan kayu di Kaimatan, kupulkan uang2 yng tercecer itu. Mari kita bangkit agar kita tidak menjadi mangsa globalisasi, tetapi kita ikut menjadi pemangsa . Berhenti berpolemik tentang ayat2 masa lalu, mari kita berpolemik tentang ayat2 masa depan.  (madeteling@plasa.com)